Rabu , 20 September 2017
A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Beranda Humas Setda Pati, Empat Besar Calon Penerima Adipura Paripurna

Pati, Empat Besar Calon Penerima Adipura Paripurna

Suasana Paparan. Dari kanan ke kiri: Direktur Pengelolaan Sampah KLHK, Prof Sarwono Kusumaatmaja, Bupati Pati, Kepala BLH Pati, Kepala DPU, Kepala Disdik, Kabid BLH

Setelah berkali-kali memperoleh Adipura bahkan Adipura Kencana, tahun ini Pati kembali masuk jajaran empat besar tingkat nasional calon penerima anugerah Adipura Paripurna untuk kategori kota kecil. Pati akan bersaing dengan tiga kota kecil lainnya yaitu Kabupaten Lamongan, Kota Martapura, dan Kabupaten Nganjuk.

Saat dimintai komentarnya terkait penghargaan ini,  Bupati Pati Haryanto mengaku bersyukur dan berterima kasih pada semua pihak termasuk masyarakat yang telah berpartisipasi dalam program Adipura. “Sambil mohon do’anya semoga pada Juli mendatang kita diberikan anugerah untuk bisa menerima penghargaan Adipura Paripurna dari Presiden RI”, harapnya usai Paparan dan Wawancara Bupati Calon Penerima Anugerah Adipura Paripurna 2016 di Auditorium Manggala Wana Bhakti Kementerian Lingkungan Hidup Jakarta, Rabu (22/6).

Lebih lanjut Haryanto menuturkan bahwa hal  ini tidak terlepas dari peran masyarakat Pati dalam  turut serta menjaga kebersihan kota Pati.

Ia pun mengapresiasi dukungan yang telah diberikan oleh semua pihak, dari jajaran Forkompinda Kabupaten Pati, seluruh SKPD, para pengusaha, perbankan yang ada di Pati, juga paguyuban PKL yang turut bekerja sama menjaga kebersihan dan keindahan kota Pati.

Bupati pun menyadari tanpa adanya peran serta dari seluruh warga Pati yang ikut bergotong royong menjaga kebersihan lingkungan, maka Adipura Paripurna akan mustahil diraih tahun ini. “Termasuk juga tenaga kebersihan (pasukan kuning) patut diapresiasi karena jasa mereka turut membersihkan kota Pati,” imbuh Bupati.

Bupati juga berharap seluruh elemen masyarakat dapat menjadikan hal ini sebagai motivasi untuk membudayakan lingkungan yang bersih, sehingga ke depan Pati akan selalu dikenal sebagai kota yang bersih, indah dan asri.

Penggunaan istilah baru yakni Adipura Paripurna merupakan salah satu wujud Rebranding Adipura Strategy yang mengkategorikan penghargaan Adipura ke dalam Adipura Buana, Adipura Kirana, Adipura Karya,  Adipura Bhakti dan Adipura Paripurna.

“Anugerah Adipura Paripurna merupakan penghargaan Adipura tertinggi kepada Kabupaten/Kota yang memenuhi syarat sebagai Kota yang berkelanjutan, yaitu Kota yang diharapkan tidak hanya mampu menyelesaikan berbagai isu lingkungan hidup, tetapi juga mampu terus berinovasi diantaranya di bidang pengelolaan sampah dan RTH, pengendalian dampak perubahan iklim, pemanfaatan energy baru terbarukan, serta penurunan ketimpangan ekonomi dan sosial berbasis pengelolaan lingkungan hidup”, jelas Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Pati, Purwadi, usai mendampingi Bupati Pati pada acara Paparan dan Wawancara Bupati Calon Penerima Anugerah Adipura Paripurna 2016 .

Selain itu, kabupaten/kota yang dinominasikan meraih Anugerah Adipura Paripurna ini juga harus telah meraih Anugerah Adipura sebelumnya minimal tiga kali berturut-turut dan menduduki peringkat tiga besar nasional untuk kategori kota metropolitan dan kota besar, serta menduduki peringkat  lima besar nasional untuk kota sedang dan kota kecil.

Tahapan Presentasi dan Wawancara terhadap Bupati/Walikota yang dinominasikan mendapat Penghargaan Adipura Paripurna merupakan upaya baru untuk menunjukkan transparansi dan akuntabilitas terhadap kelayakan suatu kabupaten/kota yang dinominasikan meraih Anugerah Adipura Paripurna.

Presentasi dan wawancara Kepala Daerah nominasi Adipura Paripurna ini dilakukan terbuka di depan Dewan Pertimbangan Adipura yang diketuai oleh Prof. Sarwono Kusumaatmaja, Praktisi di bidang pengelolaan sampah dan di bidang Marketing/Pemasaran, Pejabat Eselon I dan II lingkup KLHK, perwakilan dari Pusat Studi Lingkungan/Akademisi perguruan tinggi, dan LSM bidang lingkungan hidup.

Dalam kesempatan itu, Bupati Pati didampingi para kepala SKPD terkait, antara lain Kepala BLH, DPU, Disdik, Bappeda, Dishubkominfo, Disbudparpora, Dislautkan, Distanak, Dishutbun, Dinkes, dan BPBD.

Wawancara-Penerima-Adipura

Dengan presentasi dan wawancara yang dilakukan secara terbuka diharapkan dapat memberikan umpan balik dan masukan dari masyarakat agar Kementerian Lingkungan Hidup mendapatkan keyakinan yang cukup untuk menetapkan kabupaten/kota peraih Anugerah Adipura Paripurna.

Di lain pihak Presentasi dan Wawancara yang dilakukan secara terbuka ini juga memberikan kesempatan kepada Bupati/Walikota yang dinominasikan Anugerah Adipura Paripurna untuk menunjukkan kepada masyarakat luas tentang upaya, keberhasilan–keberhasilan sekaligus inovasi–inovasi pembangunan yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten/Kota tersebut.

Hal ini akan meningkatkan citra positif kabupaten/kota yang bersangkutan terutama untuk mendorong investasi pembangunan.

Selain Kabupaten Pati, sebelas kabupaten/kota yang dinominasikan mendapatkan penghargaan Adipura Paripurna adalah Kota Tangerang (kategori kota metropolitan), Kota Balikpapan (kategori kota besar), Kota Madiun (kategori kota sedang), Kabupaten Jombang (kategori kota sedang), Kota Semarang (kategori kota metropolitan), Kabupaten  Banjar-Kota Martapura (kategori kota kecil), Kabupaten Nganjuk (kategori kota kecil), Kabupaten Tulung Agung  (kategori kota sedang), Kota Surabaya (kategori kota metropolitan), Kabupaten  Lamongan (kategori kota kecil), dan Kota Malang (kategori kota besar).

Selain 12 kabupaten/kota yang dinominasikan penghargaan Adipura Paripurna, Program Adipura periode 2015/2016 ini, juga telah menyelesaikan proses Pemantauan 1 (P1), Validasi, serta Pemantauan Verifikasi (P2) dalam kurun waktu 29 Februari 2016 – 6 Juni 2016 terhadap 355 kabupaten/kota se Indonesia. Dari proses ini, telah diusulkan 106 kabupaten/kota yang dinominasikan penghargaan Adipura Buana atau Adipura Kirana.

 “Adipura Paripurna yang diraih Pati kali ini adalah strata tertinggi dalam klasemen Adipura. Jadi kita berada di atas peraih Adipura Buana, Kirana, Karya maupun Bakti. Se-Indonesia hanya ada empat kota kecil yang masuk strata tertinggi ini”, tegas Purwadi.

Pria yang juga pernah menjadi Assisten Ekonomi Pembangunan dan Kesra ini juga menegaskan bahwa Adipura bukanlah sebuah perlombaan, tapi merupakan penghargaan bagi daerah yang sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh program Adipura. “Maka tak menutup kemungkinan keempat kota/kabupaten ini menerima penghargaan yang sama. Karena hampir semua nominasinya ini adalah yang sudah langganan dapat Adipura/Adipura Kencana. Tinggal kita tunggu saja pengumuman akhirnya”, ujar Kepala BLH ini.

Saat diwawancarai, Purwadi juga menyampaikan perbedaan Adipura Paripurna dengan Adipura biasa. “Di Adipura Paripurna lebih menitikberatkan pada inovasi-inovasi dan keberkelanjutannya, contoh gini, gas metan yang dulu kita ujicoba untuk lampu, kini sudah ada jaringannya untuk 32 rumah tangga, kemudian awalnya kan bank sampah hanya kegiatan sampingan, sekarang malah diminati, sudah banyak yang membutukan, hasilnya sudah kelihatan, bahkan rumah kompos pun kini sudah menghasilkan pupuk”, terangnya.

Lebih lanjut pejabat yang juga pernah menjadi Kepala Disosnakertrans ini pun mengurai alur dan tahapan penilaian yang menurutnya masih sama namun materi penilaiannya sudah lebih mendalam dan dipertajam. “Penilaiannya sudah lebih dalam, misal dulu Ruang Terbuka hijau (RTH)-nya 100 meter persegi, sekarang  udah tambah. Sampah yang sekarang diolah oleh masyarakat juga udah ada peningkatan, belum lagi peningkatan penggunaan solar cells, saluran terbuka, dan tingkat kebersihan masyarakat yang semakin meningkat”, imbuhnya.

Dalam keterangannya, Purwadi juga menceritakan bahwa dalam sesi wawancara pertanyaan dari para pakar agak sedikit melebar. “Seperti misalnya apa kita sudah punya masterplan pengelolaan sampah. Apa sudah ada regulasi/keputusan Bupati yang berpihak pada pengelolaan lingkungan  berkelanjutan, dan lain sebagainya”, tuturnya.

Ketika ditanya tentang komitmen pimpinan daerah, lanjut Purwadi, Bupati menjawab bahwa hal itu sudah tertuang dalam RPJMD dan Perbup serta Surat Edaran Bupati perihal Pembangunan Lingkungan Berkelanjutan. “Dalam paparannya Pak Bupati juga mampu menguraikan semua itu secara sistimatis dan apik sehingga penjelasannya bisa diterima oleh Dewan Pertimbangan  Adipura (DPA) yang diketuai Prof Sarwono Kusumaatmaja”, terang Kepala BLH ini.

Pun demikian ketika DPA mengajukan pertanyaan yang melebar  ke masalah lain, Bupati mampu menjawabnya dengan baik. “Pertanyaan memang melebar tak hanya pada masalah kebersihan, tapi juga tentang bagaimana index pembangunan manusia, dampak multiplayer effect –nya setelah adanya pembangunan bidang lingkungan, termasuk juga dampaknya terhadap kesehatan. Lalu juga disinggung tentang sejauhmana angka rentan kemiskinan dapat ditekan dengan adanya inovasi-inovasi dalam pengelolaan sampah. Bahkan juga ditanyakan tentang pengaruhnya terhadap mitigasi bencana”, tuturnya panjang lebar.

Dewan Pertimbangan Adipura berharap pembangunan lingkungan di Kabupaten Pati harus semakin bermanfaat bagi kehidupan manusia. “Contohnya, index ketimpangan sosial diminta untuk terus ditekan hingga angkanya mencapai nol. Saat ini kita masih di angka sekitar 0,3-0,4. Dan untuk mencapai nol, ini butuh langkah yang simultan dan sinergis dari berbagai pihak”, harapnya.

Paparan semacam ini, menurut Purwadi bukan kali pertama bagi Bupati Pati Haryanto. “Model paparan ke Jakarta sudah ada sejak dulu. Sejak pertama Pak Haryanto menjabat, kita selalu diundang paparan ke sana, karena ranking kita lebih tinggi ketimbang tahun-tahun sebelumnya”, imbuhnya.

Suasana Paparan Adipura

Di akhir wawancara, Purwadi juga memberikan bocoran tentang kapan Presidena akan menyerahkan anugerah Adipura Paripurna. “Info yang kami dapat, rencananya Adipura Paripurna itu akan diserahkan secara langsung oleh Presiden RI di Siak Pekanbaru, pada 23 Juli mendatang”, tuturnya.

Simak juga

Bantuan Pemkab untuk Guru TPQ

Pemkab Berikan Bantuan Kesejahteraan untuk Guru TPQ

Sebanyak 12.450 orang yang merupakan guru TPQ, Madrasah Diniyah (Madin), guru sekolah minggu Kristen & …